EDHY NAHARTO

BUGIES BONE

Kamis, 26 Desember 2013

Edhy La Tenritappu: Optimis Jalani Hidup

Edhy La Tenritappu: Optimis Jalani Hidup: Kegagalan dalam percintaan adalah hal yang biasa. Saat kamu bisa bangkit, itulah yang membuatmu jadi orang yang luar biasa. Anda tidak...

Ingin rasanya berteriak..

Dalam goresan pena mencoba tuk gambarkan dan meluapkan isi hati dimana harapan tak sesuai dengan keinginan. Bukan yang terbaik,, itulah kata yang selalu terucap disetiap teman yang mendengarkan curatan hati ini tetapi kata seperti itu mampukah tuk memberikan inspirasi kehidupah tuk bangkit dari keterpurukan ini? sesaat mungkin saja tetapi tuk melupakan rasa kecewa dalam hati ini butuh proses.

Jumat, 08 November 2013

Optimis Jalani Hidup

Kegagalan dalam percintaan adalah hal yang biasa. Saat kamu bisa bangkit, itulah yang membuatmu jadi orang yang luar biasa.
Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila cara-cara anda baru.

Rabu, 06 November 2013

Dua Boccoe most best.

Dua Boccoe adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kecamatan adalah Uloe. Terletak di Bone Bagian utara. Kecamatan ini memiliki potensi wisata yang cukup dikenal di Bone dan sekitarnya, antara lain Goa Mampu dengan stalaktit dan stalaknit yang indah, pemandian alam Sailong dan Panyili. Desa Uloe juga dilalui sebuah sungai besar yang dilayari perahu phinisi yang mengangkut kayu Sungai Walannae berhulu di Danau Tempe Wajo dan bermuara di Pallime, sebuah kota pelabuhan yang terkenal pada zaman dahulu sebagai pintu gerbang perantau-perantau bugis bone dan wajo. selain sungai walannae juga ada sungai Unnyi yang berhulu dari sumber mata air di Cabbeng, tempat dimana terdapat gua Mampu. sumber mata air cabbeng mengandung belerang Uloe sebagai pusat kecamatan Dua Boccoe merupakan desa dengan jumlah kendaraan terbanyak di seluruh kabupaten Bone di luar Kota Watampone. pada hari-hari pasar jalanan menjadi macet karen banyak kendaraan yang parkir di sekitar pasar Uloe yang diselenggarakan tiap 5 hari sekali yaitu pada hari Legi. Desa Uloe dipimpin oleh Bapak Suradi Suhatman, yang terpilih pada pilkades tahun 2005. Kelahiran 6 Desember 1968, beliau dapat dihubungi di no HP +6285242833273. sedang Lembaga masyarakat Desa dipimpin oleh Bapak Ust. Haji Burhanuddin, pensiunan Kantor Urusan Agama Uloe penduduk desa Uloe kebanyakan bermata pencaharian petani dan Pedagang. disebelah barat Uloe terdapat Danau Matajang. Danau matajang berada di wilayah kelurahan Matajang, dimana terdapat situs bersejarah yang disebut Addiwatang'e. penduduk sekitar matajang yaitu desa Ujung Pero dan Kelurahan Matajang banyak yang berziarah ke situs ini untuk bernazar bilamana hendak pergi merantau. Dalam legenda terciptanya kerajaan Bone, disebutkan munculnya to Mannurung yang berbaju Kuning di Matajang. mungkin disinilah tempatnya. Orang Ujung juga mempunyai adat istiadat yang mensakralkan tempat ini, dipimpin oleh seorang yang dianggap mampu memimpin upacara-upacara penghormatan. salah seorang pemimpin adat tersebut bernama Marjuni yang tinggal di desa Ujung. beliau sering diminta untuk memimpin doa bagi masyarakat. dalam doanya beliau juga membaca al-Fatihah dan doa-doa Islam lainnya. anda dapat melihat juga ke Desaku yang tercinta di http:\uloebone.blogspot.com
 

Sabtu, 07 September 2013

Sulit di parcaya namun inilah yang terjadi, sebuah kisah yang tak terduga diAbad silam. berawal dari perjalan menuju sebuah Desa yang jauh dari keramaian Kota Watampone dengan  tujuan memenuhi sebuah janji yang terucap melalui jaringan komunikasi Hand Phon (HP) bersama seorang teman yang kebetulan pada saat itu kita naik motor sendiri-sendiri.
All.. kisah dalam perjalanan  itu tentu membutuhkan perjuangan tuk sampai ditujuan namum hal yang tak pernah di duga kenyataan yang terjadi jauh dari apa yang diharapkan setelah sampai tujuan.
Apa yang terjadi? sory sobat tidak baik menceritakan kejelekan orang lain kerna mungkin ada kekeliruan didalamnya itu yg kita tdk ketahui sehingga apa yang di harapkan tidak sesuai apa yang di inginkan. lanjut kisah! perjalananpun dialihkan dengan tujuan berbaik hati pada teman yang menemaniku pada saat itu untuk menemui pujaan Hatinya yang sementara Peraktek Kerja Lapangan (PKL) diKecamatan yang sama namun tempat yang berbeda, sampai disana sambutan meriah sudah pastinya tidak terlupakan, setelah beristirahat sejenak sambil menikmati secangkir teh manis, teman-teman mengajak pergi makan buah rambutan dikebun salah satu penduduk Desa situ aku yang tadinya sedikit kecewa karna tujuan utamanya gagal' tentu nurut aja sama usul teman-teman All hasil sebelum berangkat kesana pacar teman saya itu menawarkan temannya untuk di bonceng berhubung karna boncenganku juga tidak ada apa salahnya menolong sesama. dalam perjalanan sampai hingga pulang kembali ke Poskoh tidak banyak yang dibahas namun setelah sampai di Poskoh untuk yang kedua kalinya dia minta tolong mau di bonceng kembali ke Kota Watampone baru di antar lagi kembali ketempatnya PKL, nah..! kata orang menolong itu ngak boleh loh.. setengah-setangah. jadi akupun ikhlas membantu, didalam perjalanan ke Watampone kembali lagi ke Poskoh tidak banyak juga pembahasan. namun sabelum sampai di Poskoh diatas kendaaan sempat tukaran nomor Hp,dan inilah awal kisah perkenalan'ku dengan seorang cewek yang Fotonya tampil jelas di Posting ini bagian atas.
selanjudnya masih panjang cerita Sobat tapi dalam kesempatan kali ini cukup sampai di awal perkenalan dulu dan makna yang bisah di petik dari kisah ini bahwa, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya terus kesabaran dan keikhlasan Insya Allah pasti berbuah keberhasilan.
Tanks All.. udah baca posting dari,ku.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Gadis Cantik 10 Tahun Tidak Sikat Gigi

lamellong pos Minggu, 30 Juni 2013 1
Lamellong Pos Watampone, Namanaya Ji Hyun Ji wajahnya cantik dengan rambut panjang hingga ke punggung. Gadis berusia 20 tahun yang menjadi bintang di acara Mars Virus program televisi paling populer di Korea Selatan ini mengaku tak pernah lagi menggosok giginya sejak 10 tahun lalu.
“Saya tidak mengerti mengapa orang harus sikat gigi, karena toh orang lain tak bakal melongok ke dalam mulut Anda,” kata Ji Hyun Ji, santai.
“Bagi saya, tumpukan sisa makanan justru benar-benar akan melindungi gigi saya.”Terakhir kali ia ingat melakukannya ketika ibunya menggosok giginya saat berusia 10 tahun . Sehari-hari, dia hanya menyeka gigi depannya 
(tribun)

Jumat, 30 Agustus 2013

0Riwayat Raja Bone (23): La Tenri Tappu To Appaliweng

La Tenri Tappu To Appaliweng adalah cucu La Temmassonge’ To Appaweling MatinroE ri Malimongeng, dari anaknya We Hamidah Arung Takalar Petta MatowaE. La Tenri Tappu menggantikan neneknya menjadi Arumpone dalam Tahun 1775. Di masa kekuasaannya, Arumpone ini pernah berperang dengan La Wawo Addatuang Sidenreng karena mau melepaskan keterikatannya dengan Bone, juga sudah tidak memenuhi kewajiban sebbukati (semacam persembahan/upeti) kepada Bone. Karena merasa terancam dengan serangan Bone, Addatuang Sidenreng La Wawo minta bantuan kepada Karaeng Tanete agar Arumpone La Tenri Tappu bersama segenap pasukannya dapat dibendung untuk tidak memasuki wilayah Sidenreng. Addatuang Sidenreng La Wawo menyanggupi untuk menyediakan ubba (semacam bahan peledak) kepada Karaeng Tanete dalam membendung serangan Bone. (Makkulau, 2009).
Setelah bermusuhan sekitar tiga tahun, ternyata orang Bone tidak mampu melewati Sungai Segeri karena dibendung oleh orang Tanete dengan bantuan Petta TollaowE ri Segeri. Untuk mencegah terjadinya perang berkerpanjangan, Pembesar Kompeni Belanda di Ujungpandang segera turun tangan. Pembesar Kompeni Belanda yang bernama Yacobson Wilbey mengingatkan kepada Arumpone La Tenri Tappu untuk mundur ke Bone. Begitu pula kepada Addatuang Sidenreng La Wawo agar menarik pasukannya kembali ke Sidenreng. Dengan demikian, perang antara Bone dengan Sidenreng berakhir. Ketika perang antara Bone dengan Sidenreng berakhir, datanglah La Wawo kepada Karaeng Tanete membawa 40 orang Batu Lappa dan 20 orang Kasa sebagai pengganti harga ubba yang digunakan Karaeng Tanete selama perang. Dalam masa pemerintahan La Tenri Tappu di Bone, Inggeris masuk memerintah menggantikan Belanda tahun 1814.
Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa La Tenri Tappu To Appaliweng kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Padauleng untuk dijadikan sebagai Arung Makkunrai (permaisuri) di Bone. We Padauleng adalah anak dari La Baloso, saudara ibunya dengan isterinya We Tenriawaru Arung Lempang. Dari We Padauleng, La Tenri Tappu mendapatkan 13 anak, yaitu La Mappasessu To Appatunru, We Manneng Arung Data, Batara Tungke Arung Timurung, La Pawawoi Arung Sumaling, La Mappaseling Arung Panynyili, La Tenri Sukki Arung Kajuara, We Kalaru Arung Pallengoreng, Mamuncaragi, La Tenri Bali Arung Ta’, La Mappawewang Arung Lompu Anre Guru Anakarung Bone, La Paremma’ Rukka Arung Karella, La Temmu Page Arung Paroto Ponggawa Bone MatinroE ri Alau Appasareng, dan La Pattuppu Batu Arung Tonra.
La Mappasessu To Appatunru kawin dengan We Bau Arung Kaju, anak dari We Rukiyah dari suaminya La Umpu Arung Teko. Dari perkawinannya itu lahirlah We Baego Arung Macege. Inilah yang kawin dengan sepupu satu kali ibunya Sumange’ Rukka To Patarai Arung Berru. Selanjutnya dari perkawinan We Baego Arung Macege dengan Sumange’ Rukka To Patarai, lahirlah We Pada Arung Berru dan Singkeru’ Rukka Arung Palakka. Adapun La Tenri Sukki Arung Kajuara To Malompo di Bone, kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenri Lippu atau We Maddika Daeng Matana Arung Kaju. Dari perkawinannya itu lahir seorang anak perempuan We Tenriawaru Pancai’tana Besse Kajuara. Daeng Matana adalah anak dari We Maddilu saudara kandung We Padauleng Arung Makkunrai di Bone. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
Sedangkan La Mappawewang Arung Lompu Anre Guru Anakarung Bone, kawin dengan We Tabacina atau Bau Cina Karaeng Kanjenne anak dari We Mudariyah MappalakaE Ranreng Talotenre dengan suaminya yang bernama La Pasanrangi Petta CambangE Arung Malolo Sidenreng. Dari perkawinan Bau Cina dengan Petta Anre Guru AnakarungE lahirlah La Parenrengi Arung Ugi, yang dikawinkan dengan sepupu satu kalinya We Tenriawaru atau Pancai’tana Besse Kajuara anak dari We Tenri Lippu atau We Maddika Daeng Matana dengan suaminya La Tenri Sukki Arung Kajuara. Adik dari La Parenrengi bernama Toancalo Petta CambangE Arung Amali To Marilaleng Bone yang juga sebagai Ranreng Talotenre Wajo. Selanjutnya adik dari Toancalo bernama Sitti Saira Arung Lompu. Adik berikutnya bernama We Rukka, We Ciciba. We Ciciba inilah yang kawin dengan La Pangerang Arung Cimpu.
Kembali kepada saudara perempuan La Tenri Tappu yang bernama We Yallu Arung Apala. Inilah yang melahirkan Datu Pattiro, Datu Soppeng MatinroE ri Tengngana Soppeng dengan suaminya La Mappapole Onre Datu Soppeng MatinroE ri Amala’na. Anak berikutnya bernama La Mata Esso Sule Datu di Soppeng MatinroE ri Lawelareng. Selanjutnya bernama We Tenri Kaware Arung Saolebbi Arung Balosu. Selanjutnya We Dende, meninggal dunia ketika masih kecil. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
La Unru Datu Pattiro kawin dengan We Selima Mabbaju NyilaE anak dari We Mariyama Mabbaju LotongE dengan suaminya yang bernama La Pede Daeng Mabela Pabbicara Sidenreng. Dari perkawinannya itu lahirlah; pertama bernama Baso Sidenreng Petta Ambo’na Salengke, kedua bernama We Bonga Petta Indo’na I Lampoko. Baso Sidenreng Petta Ambo’na Salengke kawin dengan We Waru, kemudian We Kacici. Keduanya adalah anak dari La Patau Petta Janggo Arung Leworeng. Dari perkawinan dengan We Waru lahirlah We Nibu dan La Salengke. Selanjutnya We Kacici melahirkan anak La Palloge,  We Jenna, dan We Takka. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
Sedangkan We Tenri Kaware Arung Balosu kawin dengan Sumange’ Rukka Ambo’ Pajala Arung Tanete anak We Soji Arung Tanete dengan suaminya La Makkawaru Arung Atakka Tomarilaleng Bone. Dari perkawinannya itu lahirlah La Patongai Datu Pattiro dan La Passamula BadungE. La Patongai Datu Pattiro kawin dengan sepupu satu kalinya We Panangareng Datu Lompulle, anak dari We Pancai’tana Arung Akkampeng dengan suaminya La Rumpang Megga Karaeng Tanete. We Panangareng dengan La Patongai melahirkan La Onro Datu Lompulle. Sedang La Passamula BadungE dikawinkan dengan sepupu satu kalinya We Bonga Petta Indo’na I Lampoko yang kemudian melahirkan Bau Baso Arung Balosu (Sule Datu di Soppeng), Sitti Hawang yang dikawinkan dengan La Cakkudu Petta Amparita, anak La Panguriseng Addatuang Sidenreng dengan isterinya We Bangki Arung Rappeng, We Mira. Bau Baso Arung Balosu dikawinkan dengan sepupu satu kalinya We Nebu Petta Indo’na Matta anak Baso Sidenreng dengan isterinya We Waru. Dari perkawinan itu lahirlah We Matta, Mahmud Petta Bau, dan We Besse. . (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
We Takka kawin dengan La Sanreseng Datu Lamuru, anak dari Jaya Langkara Datu Lamuru dengan isterinya We Tellongeng. Dari perkawinan itu lahirlah We Sengngeng. Inilah yang kawin dengan La Sana Arung Lompengeng, anak dari La Page Arung Lompengeng dengan isterinya yang bernama We Bonga. We Sengngeng dengan La Sana melahirkan anak bernama We Yasiyah. We Yasiyah inilah yang kawin dengan La Coppo Daeng Mangottong, anak dari La Massikkireng Arung Macege dengan isterinya yang bernama Sitti Aminah Arung Pallengoreng.
We Jenna kawin dengan La Passamula Datu Lompulle Ranreng Talotenre Arung Matowa Wajo MatinroE ri Batubatu. Anak dari La Patongai Datu Lompulle Ranreng Talotenre dengan isterinya Besse Arawang. Dari perkawinannya itu lahirlah La Mappe Datu Mario Riawa. Kemudian La Mappe kawin dengan sepupu satu kalinya We Besse anak Sule DatuE Arung Balosu dengan isterinya yang bernama We Nebu Petta Indo’na Matta. Selanjutnya We Besse dengan La Mappe melahirkan anak perempuan Isa Arung Padali. We Matta kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Pasanrangi Datu Taru, anak dari Sitti Hawang dengan suaminya La Cakkudu Petta Amparita. Kemudian We Matta dengan La Pasanrangi melahirkan La Bandu dan We Selo. We Selo kawin dengan La Jojjo Arung Berru Karaeng Lembang Parang, anak dari We Batari Arung Berru dengan suaminya La Mahmud Karaeng ri Baroanging. Dari perkawinannya itu lahirlah We Tenri. . (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
La Onro Datu Lompulle kawin dengan We Cecu Arung Ganra yang juga Arung Belawa Orai. Anak dari We Sitti Tahirah Patola Wajo dengan suaminya To Lempeng Arung Singkang yang juga Datu Soppeng Rialau. Kemudian We Cecu dengan La Onro melahirkan anak ; pertama bernama We Soji Datu Madello, kedua bernama La Pabeangi Arung Ganra, ketiga bernama La Rumpang Datu Pattiro Ranreng Talotenre. We Soji Datu Madello kawin dengan Loa Tengko Manciji Wajo Arung Belawa Alau anak dari La Tune Arung Bettempola dengan isterinya Sompa Ritimo Arung Penrang. Dari perkawinannya itu lahirlah La Cella, We Tenri Arung Belawa, We Panangareng Datu Madello, La Patongai Datu Doping.
La Pabeangi Arung Ganra kawin dengan sepupu satu kalinya We Tenri Sui Datu Watu Arung Lapajung Patola Wajo, anak dari We Mappanyiwi Patola Wajo dengan suaminya La Walinono Datu Botto. We Tenri Sui dengan La Pabeangi melahirkan La Wana Arung Ganra, La Jemma Datu Lapasung, We Yaddi Luwu Datu Watu, dan Sitti Tahira Patola Wajo Datu MallanroE. Sitti Tahira inilah yang kawin dengan sepupu tiga kalinya La Bandu, tidak melahirkan anak. La Wana kawin dengan sepupu tiga kalinya Isa Arung Padali anak dari La Mappe dari isterinya We Besse. Kemudian La Mappe kawin lagi dengan We Cingkang anak dari La Jalante Jenderal Tempe. Dari perkawinannya itu lahirlah La Mori. Selanjutnya Isa dengan La Wana Arung Ganra melahirkan La Walinono Arung Laleng Bata, We Tenri Dio Datu Lompulle, Galette, dan Abu Baedah. . (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
We Yaddi Luwu kawin dengan sepupu satu kalinya La Mangkona Datu Mario Riwawo anak dari La Wawo Datu Botto dari isterinya We Tenri Leleang Datu Mario Riwawo. We Yaddi Luwu dengan La Mangkona melahirkan La Sade, We Tenriabeng, We Tenriangka, We Cecu, dan We Tenri Pakkemme’. La Onro Datu Lompulle kawin lagi dengan We Dulung, melahirkan seorang anak bernama La Cube. Inilah yang kemudian menjadi Pangulu Lompo di Galung. La Cube kawin dengan We Munde saudara perempuan Jenderal Lompengeng, anak dari La Page Arung Lompengeng dengan isterinya We Bonga. Dari perkawinan La Cube dengan We Munde lahirlah La Singke, We Sukki, Sitti Saleha, dan La Mahmud. La Rumpang kawin lagi dengan We Tappa dan melahirkan La Makkulau. Sampai disinilah keterangan tentang keturunan We Yallu Arung Apala yang bersaudara kandung dengan We Banrigau Arung Tajong. We Banrigau Arung Tajong kawin dengan La Tenriangka Arung Ujung anak dari Tomarilaleng Pawelaiye ri Gowa dengan isterinya Sitti Aminah Karaeng Somba Opu yang juga Karaeng Tallo. Perkawinannya itu melahirkan La Tenri Wari. . (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
Kemudian We Banrigau Arung Tajong kawin lagi di Wajo dengan La Sampenne Petta La Battowa CakkuridiE ri Wajo yang juga sebagai Arung Liu. Anak dari La Paulangi To Saddapotto Daeng Lebbi Arung Bette dengan isterinya We Tenri Ampa Arung Singkang. We Banrigau dengan Petta La Battowa melahirkan anak; pertama bernama We Sawe Arung Liu, kedua bernama La Olli Maddanreng Bone, ketiga bernama We Sikati Andi Ecce. We Sikati kawin dengan La Sampo Arung Ugi yang juga sebagai Arung Belawa. Anak dari La Mampulana Arung Ugi dengan isterinya yang bernama We Bakke Datu Kawerang. Dari perkawinannya itu, lahirlah We Busa Petta WaluE Arung Belawa, La Rappe (Arung Liu Arung Ugi Maddanreng Bone, Sule Ranreng Tuwa), dan La Maggalatung Daeng PaliE Arung Palippu. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
We Busa Arung Belawa kawin dengan La Tompi Arung Bettempola MatinroE ri Wajo. Anak dari La Sengngeng Arung Bettempola MatinroE ri Salawa’na dengan isterinya We Mappangideng Arung Macanang. Dari perkawinan itu lahirlah We Kalaru Arung Bettempola yang dikawinkan dengan La Patongai Datu Lompulle Ranreng Talotenre, anak dari We Mudariyah MappalakaE dari suaminya La Pasanrangi Petta CambangE Arung Malolo Sidenreng. Dari perkawinannya itu lahirlah La Mangkona To Rao PajumpungaE Datu Alau Wajo Arung Palippu, La Paramata La Tatta Raja Dewa Arung Bettempola, La Tune Mangkau La Tune Sangiang Arung Bettempola MatinroE ri Tancung. La Rappe Arung Liu kawin dengan We Besse Daeng Taleba Arung Penrang anak dari We Jiba Datu Bulu Bangi dari suaminya La Saliwu Petta KampongE Arung Atakka. Dari perkawinannya itu lahirlah Sompa Ritimo Arung Penrang MatinroE ri Cinnong Tabi yang kemudian dikawinkan dengan sepupu satu kalinya La Tune Mangkau Arung Bettempola, anak dari We Busa Petta WaluE dengan suaminya La Tompi Arung Bettempola MatinroE ri Wajo. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
Sompa Ritimo dengan La Tune Sangiang melahirkan bernama La Gau yang kemudian menjadi Ranreng Bettempola di Wajo. La Gau dikawinkan dengan We Tenri Sampeang Denra WaliE Arung Patila, anak dari We Baru Arung Patila dari suaminya La Saddapotto Maddanreng Pammana. Kemudian La Gau dengan We Tenri Sampeang melahirkan anak La Jamarro Paddanreng Bettempola, La Cengke Manciji Wajo, La Tengko Arung Belawa Alau Manciji Wajo, La Jollo Datu Patila, La Mamu Petta Yugi, La Come, dan We Gallo Arung Liu. Yang terakhir ini, We Gallo Arung Liu, kawin dengan sepupu satu kalinya La Mangkona To Rao PajumpungaE, tidak ada anaknya. Kemudian PajumpungaE kawin lagi dengan sepupu satu ayahnya We Nyili’timo Arung Baranti, anak dari La Panguriseng. Arumpone La Tenri Tappu yang tempat tinggalnya Rompegading dan Bone secara bergantian. Pada tahun 1812, La Tenri Tappu Daeng Palallo meninggal dunia di Rompegading sehingga digelari MatinroE ri Rompegading (1775 – 1812) dan digantikan oleh anaknya La Mappasessu To Appatunru sebagai Mangkau’ di Bone.(*)
 BALADA ARUNG PALAKKA
Satu bayi suci memberontak
Melepaskan diri dari dekapan
Rahim suci bunda
Bersamaan guntur menggelegar
Merobek sunyi di keheningan langit
Bayi sucimenalap dunia
Menerima kejadian – kejadian datang
Mendengar desing – desing huru
Arung palakka ... Arung Palakka... Arung Palakka
Laki – laki batu berdarah semberani
Jiwamu memberontak
Pikiranmu mau memberontak
Merontak...merontak... merontak
Panglima melampe'e gemme'na
Berhati rajawali
Pemberontakanmu , perlawananmu
Membawa kemuliaan batin
Bagi umat Tana Bone
Bimbinganmu keperdamaian
Arung Palakka...Arung Palakka...Arung Palakka
Laki laki malampe’e gemme’ na
Berdarah bangsawan
Penberontakanmu , pahlawanmu
Menjadi merah
Merah...merah...merah kotor
Bagi sejarah bangsa lain
Namun tuhanmu di arasi
Lebih mengetahui hakikat
Jiwa dan perasaanmu
Juga baktimu ....

(Gita)