Jumat, 08 November 2013
Rabu, 06 November 2013
Dua Boccoe most best.
Dua Boccoe adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.
Ibu kota kecamatan adalah Uloe. Terletak di Bone Bagian utara.
Kecamatan ini memiliki potensi wisata yang cukup dikenal di Bone dan
sekitarnya, antara lain Goa Mampu dengan stalaktit dan stalaknit yang
indah, pemandian alam Sailong dan Panyili. Desa Uloe juga dilalui sebuah
sungai besar yang dilayari perahu phinisi yang mengangkut kayu Sungai
Walannae berhulu di Danau Tempe Wajo dan bermuara di Pallime, sebuah
kota pelabuhan yang terkenal pada zaman dahulu sebagai pintu gerbang
perantau-perantau bugis bone dan wajo. selain sungai walannae juga ada
sungai Unnyi yang berhulu dari sumber mata air di Cabbeng, tempat dimana
terdapat gua Mampu. sumber mata air cabbeng mengandung belerang Uloe
sebagai pusat kecamatan Dua Boccoe merupakan desa dengan jumlah
kendaraan terbanyak di seluruh kabupaten Bone di luar Kota Watampone.
pada hari-hari pasar jalanan menjadi macet karen banyak kendaraan yang
parkir di sekitar pasar Uloe yang diselenggarakan tiap 5 hari sekali
yaitu pada hari Legi. Desa Uloe dipimpin oleh Bapak Suradi Suhatman,
yang terpilih pada pilkades tahun 2005. Kelahiran 6 Desember 1968,
beliau dapat dihubungi di no HP +6285242833273. sedang Lembaga
masyarakat Desa dipimpin oleh Bapak Ust. Haji Burhanuddin, pensiunan
Kantor Urusan Agama Uloe penduduk desa Uloe kebanyakan bermata
pencaharian petani dan Pedagang. disebelah barat Uloe terdapat Danau
Matajang. Danau matajang berada di wilayah kelurahan Matajang, dimana
terdapat situs bersejarah yang disebut Addiwatang'e. penduduk sekitar
matajang yaitu desa Ujung Pero dan Kelurahan Matajang banyak yang
berziarah ke situs ini untuk bernazar bilamana hendak pergi merantau.
Dalam legenda terciptanya kerajaan Bone, disebutkan munculnya to
Mannurung yang berbaju Kuning di Matajang. mungkin disinilah tempatnya.
Orang Ujung juga mempunyai adat istiadat yang mensakralkan tempat ini,
dipimpin oleh seorang yang dianggap mampu memimpin upacara-upacara
penghormatan. salah seorang pemimpin adat tersebut bernama Marjuni yang
tinggal di desa Ujung. beliau sering diminta untuk memimpin doa bagi
masyarakat. dalam doanya beliau juga membaca al-Fatihah dan doa-doa
Islam lainnya. anda dapat melihat juga ke Desaku yang tercinta di
http:\uloebone.blogspot.com
Sabtu, 07 September 2013
Sulit di parcaya namun inilah yang terjadi, sebuah kisah yang tak terduga diAbad silam. berawal dari perjalan menuju sebuah Desa yang jauh dari keramaian Kota Watampone dengan tujuan memenuhi sebuah janji yang terucap melalui jaringan komunikasi Hand Phon (HP) bersama seorang teman yang kebetulan pada saat itu kita naik motor sendiri-sendiri.
All.. kisah dalam perjalanan itu tentu membutuhkan perjuangan tuk sampai ditujuan namum hal yang tak pernah di duga kenyataan yang terjadi jauh dari apa yang diharapkan setelah sampai tujuan.
Apa yang terjadi? sory sobat tidak baik menceritakan kejelekan orang lain kerna mungkin ada kekeliruan didalamnya itu yg kita tdk ketahui sehingga apa yang di harapkan tidak sesuai apa yang di inginkan. lanjut kisah! perjalananpun dialihkan dengan tujuan berbaik hati pada teman yang menemaniku pada saat itu untuk menemui pujaan Hatinya yang sementara Peraktek Kerja Lapangan (PKL) diKecamatan yang sama namun tempat yang berbeda, sampai disana sambutan meriah sudah pastinya tidak terlupakan, setelah beristirahat sejenak sambil menikmati secangkir teh manis, teman-teman mengajak pergi makan buah rambutan dikebun salah satu penduduk Desa situ aku yang tadinya sedikit kecewa karna tujuan utamanya gagal' tentu nurut aja sama usul teman-teman All hasil sebelum berangkat kesana pacar teman saya itu menawarkan temannya untuk di bonceng berhubung karna boncenganku juga tidak ada apa salahnya menolong sesama. dalam perjalanan sampai hingga pulang kembali ke Poskoh tidak banyak yang dibahas namun setelah sampai di Poskoh untuk yang kedua kalinya dia minta tolong mau di bonceng kembali ke Kota Watampone baru di antar lagi kembali ketempatnya PKL, nah..! kata orang menolong itu ngak boleh loh.. setengah-setangah. jadi akupun ikhlas membantu, didalam perjalanan ke Watampone kembali lagi ke Poskoh tidak banyak juga pembahasan. namun sabelum sampai di Poskoh diatas kendaaan sempat tukaran nomor Hp,dan inilah awal kisah perkenalan'ku dengan seorang cewek yang Fotonya tampil jelas di Posting ini bagian atas.
selanjudnya masih panjang cerita Sobat tapi dalam kesempatan kali ini cukup sampai di awal perkenalan dulu dan makna yang bisah di petik dari kisah ini bahwa, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya terus kesabaran dan keikhlasan Insya Allah pasti berbuah keberhasilan.
Tanks All.. udah baca posting dari,ku.
All.. kisah dalam perjalanan itu tentu membutuhkan perjuangan tuk sampai ditujuan namum hal yang tak pernah di duga kenyataan yang terjadi jauh dari apa yang diharapkan setelah sampai tujuan.
Apa yang terjadi? sory sobat tidak baik menceritakan kejelekan orang lain kerna mungkin ada kekeliruan didalamnya itu yg kita tdk ketahui sehingga apa yang di harapkan tidak sesuai apa yang di inginkan. lanjut kisah! perjalananpun dialihkan dengan tujuan berbaik hati pada teman yang menemaniku pada saat itu untuk menemui pujaan Hatinya yang sementara Peraktek Kerja Lapangan (PKL) diKecamatan yang sama namun tempat yang berbeda, sampai disana sambutan meriah sudah pastinya tidak terlupakan, setelah beristirahat sejenak sambil menikmati secangkir teh manis, teman-teman mengajak pergi makan buah rambutan dikebun salah satu penduduk Desa situ aku yang tadinya sedikit kecewa karna tujuan utamanya gagal' tentu nurut aja sama usul teman-teman All hasil sebelum berangkat kesana pacar teman saya itu menawarkan temannya untuk di bonceng berhubung karna boncenganku juga tidak ada apa salahnya menolong sesama. dalam perjalanan sampai hingga pulang kembali ke Poskoh tidak banyak yang dibahas namun setelah sampai di Poskoh untuk yang kedua kalinya dia minta tolong mau di bonceng kembali ke Kota Watampone baru di antar lagi kembali ketempatnya PKL, nah..! kata orang menolong itu ngak boleh loh.. setengah-setangah. jadi akupun ikhlas membantu, didalam perjalanan ke Watampone kembali lagi ke Poskoh tidak banyak juga pembahasan. namun sabelum sampai di Poskoh diatas kendaaan sempat tukaran nomor Hp,dan inilah awal kisah perkenalan'ku dengan seorang cewek yang Fotonya tampil jelas di Posting ini bagian atas.
selanjudnya masih panjang cerita Sobat tapi dalam kesempatan kali ini cukup sampai di awal perkenalan dulu dan makna yang bisah di petik dari kisah ini bahwa, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya terus kesabaran dan keikhlasan Insya Allah pasti berbuah keberhasilan.
Tanks All.. udah baca posting dari,ku.
Senin, 02 September 2013
Sabtu, 31 Agustus 2013
Gadis Cantik 10 Tahun Tidak Sikat Gigi
Lamellong Pos Watampone, Namanaya Ji Hyun Ji wajahnya cantik dengan rambut
panjang hingga ke punggung. Gadis berusia 20 tahun yang menjadi bintang
di acara Mars Virus program televisi paling populer di Korea Selatan ini
mengaku tak pernah lagi menggosok giginya sejak 10 tahun lalu.
“Saya tidak mengerti mengapa orang harus sikat gigi,
karena toh orang lain tak bakal melongok ke dalam mulut Anda,” kata Ji
Hyun Ji, santai.
“Bagi saya, tumpukan sisa makanan justru benar-benar
akan melindungi gigi saya.”Terakhir kali ia ingat melakukannya ketika
ibunya menggosok giginya saat berusia 10 tahun . Sehari-hari, dia hanya
menyeka gigi depannya
(tribun)
Jumat, 30 Agustus 2013
0Riwayat Raja Bone (23): La Tenri Tappu To Appaliweng
La
Tenri Tappu To Appaliweng adalah cucu La Temmassonge’ To Appaweling
MatinroE ri Malimongeng, dari anaknya We Hamidah Arung Takalar Petta
MatowaE. La Tenri Tappu menggantikan neneknya menjadi Arumpone dalam Tahun 1775. Di masa kekuasaannya, Arumpone
ini pernah berperang dengan La Wawo Addatuang Sidenreng karena mau
melepaskan keterikatannya dengan Bone, juga sudah tidak memenuhi
kewajiban sebbukati (semacam persembahan/upeti) kepada Bone. Karena
merasa terancam dengan serangan Bone, Addatuang Sidenreng La Wawo minta
bantuan kepada Karaeng Tanete agar Arumpone La Tenri Tappu bersama
segenap pasukannya dapat dibendung untuk tidak memasuki wilayah
Sidenreng. Addatuang Sidenreng La Wawo menyanggupi untuk menyediakan
ubba (semacam bahan peledak) kepada Karaeng Tanete dalam membendung
serangan Bone. (Makkulau, 2009).
Setelah
bermusuhan sekitar tiga tahun, ternyata orang Bone tidak mampu melewati
Sungai Segeri karena dibendung oleh orang Tanete dengan bantuan Petta
TollaowE ri Segeri. Untuk mencegah terjadinya perang berkerpanjangan,
Pembesar Kompeni Belanda di Ujungpandang segera turun tangan. Pembesar
Kompeni Belanda yang bernama Yacobson Wilbey mengingatkan kepada
Arumpone La Tenri Tappu untuk mundur ke Bone. Begitu pula kepada
Addatuang Sidenreng La Wawo agar menarik pasukannya kembali ke
Sidenreng. Dengan demikian, perang antara Bone dengan Sidenreng
berakhir. Ketika perang antara Bone dengan Sidenreng berakhir, datanglah
La Wawo kepada Karaeng Tanete membawa 40 orang Batu Lappa dan 20 orang
Kasa sebagai pengganti harga ubba yang digunakan Karaeng Tanete selama
perang. Dalam masa pemerintahan La Tenri Tappu di Bone, Inggeris masuk
memerintah menggantikan Belanda tahun 1814.
Dalam
Lontaraq Akkarungeng ri Bone disebutkan bahwa La Tenri Tappu To
Appaliweng kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Padauleng
untuk dijadikan sebagai Arung Makkunrai (permaisuri) di Bone. We
Padauleng adalah anak dari La Baloso, saudara ibunya dengan isterinya We
Tenriawaru Arung Lempang. Dari We Padauleng, La Tenri Tappu mendapatkan
13 anak, yaitu La Mappasessu To Appatunru, We Manneng Arung Data, Batara Tungke Arung Timurung, La Pawawoi Arung Sumaling, La Mappaseling Arung Panynyili, La Tenri Sukki Arung Kajuara, We Kalaru Arung Pallengoreng, Mamuncaragi, La
Tenri Bali Arung Ta’, La Mappawewang Arung Lompu Anre Guru Anakarung
Bone, La Paremma’ Rukka Arung Karella, La Temmu Page Arung Paroto
Ponggawa Bone MatinroE ri Alau Appasareng, dan La Pattuppu Batu Arung
Tonra.
La Mappasessu To Appatunru kawin dengan We Bau Arung Kaju, anak dari We
Rukiyah dari suaminya La Umpu Arung Teko. Dari perkawinannya itu
lahirlah We Baego Arung Macege. Inilah yang kawin dengan sepupu satu
kali ibunya Sumange’ Rukka To Patarai Arung Berru. Selanjutnya dari
perkawinan We Baego Arung Macege dengan Sumange’ Rukka To Patarai,
lahirlah We Pada Arung Berru dan Singkeru’ Rukka Arung Palakka. Adapun
La Tenri Sukki Arung Kajuara To Malompo di Bone, kawin dengan sepupu
satu kalinya yang bernama We Tenri Lippu atau We Maddika Daeng Matana
Arung Kaju. Dari perkawinannya itu lahir seorang anak perempuan We
Tenriawaru Pancai’tana Besse Kajuara. Daeng Matana adalah anak dari We
Maddilu saudara kandung We Padauleng Arung Makkunrai di Bone. (Lontaraq
Akkarungeng ri Bone).
Sedangkan
La Mappawewang Arung Lompu Anre Guru Anakarung Bone, kawin dengan We
Tabacina atau Bau Cina Karaeng Kanjenne anak dari We Mudariyah
MappalakaE Ranreng Talotenre dengan suaminya yang bernama La Pasanrangi
Petta CambangE Arung Malolo Sidenreng. Dari perkawinan Bau Cina dengan
Petta Anre Guru AnakarungE lahirlah La Parenrengi Arung Ugi, yang
dikawinkan dengan sepupu satu kalinya We Tenriawaru atau
Pancai’tana Besse Kajuara anak dari We Tenri Lippu atau We Maddika Daeng
Matana dengan suaminya La Tenri Sukki Arung Kajuara. Adik dari La
Parenrengi bernama Toancalo Petta CambangE Arung Amali To Marilaleng
Bone yang juga sebagai Ranreng Talotenre Wajo. Selanjutnya adik dari
Toancalo bernama Sitti Saira Arung Lompu. Adik berikutnya bernama We
Rukka, We Ciciba. We Ciciba inilah yang kawin dengan La Pangerang Arung
Cimpu.
Kembali kepada saudara perempuan La Tenri Tappu yang bernama We Yallu
Arung Apala. Inilah yang melahirkan Datu Pattiro, Datu Soppeng MatinroE
ri Tengngana Soppeng dengan suaminya La Mappapole Onre Datu Soppeng
MatinroE ri Amala’na. Anak berikutnya bernama La Mata Esso Sule Datu di
Soppeng MatinroE ri Lawelareng. Selanjutnya bernama We Tenri Kaware
Arung Saolebbi Arung Balosu. Selanjutnya We Dende, meninggal dunia
ketika masih kecil. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
La Unru Datu Pattiro kawin dengan We Selima Mabbaju NyilaE anak dari We
Mariyama Mabbaju LotongE dengan suaminya yang bernama La Pede Daeng
Mabela Pabbicara Sidenreng. Dari perkawinannya itu lahirlah; pertama
bernama Baso Sidenreng Petta Ambo’na Salengke, kedua bernama We Bonga
Petta Indo’na I Lampoko. Baso
Sidenreng Petta Ambo’na Salengke kawin dengan We Waru, kemudian We
Kacici. Keduanya adalah anak dari La Patau Petta Janggo Arung Leworeng.
Dari perkawinan dengan We Waru lahirlah We Nibu dan La Salengke.
Selanjutnya We Kacici melahirkan anak La Palloge, We Jenna, dan We
Takka. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
Sedangkan
We Tenri Kaware Arung Balosu kawin dengan Sumange’ Rukka Ambo’ Pajala
Arung Tanete anak We Soji Arung Tanete dengan suaminya La Makkawaru
Arung Atakka Tomarilaleng Bone. Dari perkawinannya itu lahirlah La Patongai Datu Pattiro dan La Passamula BadungE. La Patongai Datu Pattiro kawin dengan sepupu satu kalinya We Panangareng Datu Lompulle, anak dari We Pancai’tana Arung Akkampeng dengan suaminya La Rumpang Megga Karaeng Tanete. We
Panangareng dengan La Patongai melahirkan La Onro Datu Lompulle. Sedang
La Passamula BadungE dikawinkan dengan sepupu satu kalinya We Bonga
Petta Indo’na I Lampoko yang kemudian melahirkan Bau
Baso Arung Balosu (Sule Datu di Soppeng), Sitti Hawang yang dikawinkan
dengan La Cakkudu Petta Amparita, anak La Panguriseng Addatuang
Sidenreng dengan isterinya We Bangki Arung Rappeng, We
Mira. Bau Baso Arung Balosu dikawinkan dengan sepupu satu kalinya We
Nebu Petta Indo’na Matta anak Baso Sidenreng dengan isterinya We Waru.
Dari perkawinan itu lahirlah We Matta, Mahmud Petta Bau, dan We Besse. . (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
We
Takka kawin dengan La Sanreseng Datu Lamuru, anak dari Jaya Langkara
Datu Lamuru dengan isterinya We Tellongeng. Dari perkawinan itu lahirlah
We Sengngeng. Inilah yang kawin dengan La Sana Arung Lompengeng, anak
dari La Page Arung Lompengeng dengan isterinya yang bernama We Bonga. We
Sengngeng dengan La Sana melahirkan anak bernama We Yasiyah. We Yasiyah
inilah yang kawin dengan La Coppo Daeng Mangottong, anak dari La
Massikkireng Arung Macege dengan isterinya yang bernama Sitti Aminah
Arung Pallengoreng.
We Jenna kawin dengan La Passamula Datu Lompulle Ranreng Talotenre
Arung Matowa Wajo MatinroE ri Batubatu. Anak dari La Patongai Datu
Lompulle Ranreng Talotenre dengan isterinya Besse Arawang. Dari
perkawinannya itu lahirlah La Mappe Datu Mario Riawa. Kemudian La Mappe
kawin dengan sepupu satu kalinya We Besse anak Sule DatuE Arung Balosu
dengan isterinya yang bernama We Nebu Petta Indo’na Matta. Selanjutnya
We Besse dengan La Mappe melahirkan anak perempuan Isa Arung Padali. We
Matta kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Pasanrangi Datu
Taru, anak dari Sitti Hawang dengan suaminya La Cakkudu Petta Amparita.
Kemudian We Matta dengan La Pasanrangi melahirkan La Bandu dan We Selo.
We Selo kawin dengan La Jojjo Arung Berru Karaeng Lembang Parang, anak
dari We Batari Arung Berru dengan suaminya La Mahmud Karaeng ri
Baroanging. Dari perkawinannya itu lahirlah We Tenri. . (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
La Onro Datu Lompulle kawin dengan We Cecu Arung Ganra yang juga Arung
Belawa Orai. Anak dari We Sitti Tahirah Patola Wajo dengan suaminya To
Lempeng Arung Singkang yang juga Datu Soppeng Rialau. Kemudian We Cecu
dengan La Onro melahirkan anak ; pertama bernama We Soji Datu Madello,
kedua bernama La Pabeangi Arung Ganra, ketiga bernama La Rumpang Datu
Pattiro Ranreng Talotenre. We Soji Datu Madello kawin
dengan Loa Tengko Manciji Wajo Arung Belawa Alau anak dari La Tune Arung
Bettempola dengan isterinya Sompa Ritimo Arung Penrang. Dari
perkawinannya itu lahirlah La Cella, We Tenri Arung Belawa, We Panangareng Datu Madello, La Patongai Datu Doping.
La Pabeangi Arung Ganra kawin dengan sepupu satu kalinya We Tenri Sui
Datu Watu Arung Lapajung Patola Wajo, anak dari We Mappanyiwi Patola
Wajo dengan suaminya La Walinono Datu Botto. We Tenri Sui dengan La
Pabeangi melahirkan La Wana Arung Ganra, La Jemma Datu
Lapasung, We Yaddi Luwu Datu Watu, dan Sitti Tahira Patola Wajo Datu
MallanroE. Sitti Tahira inilah yang kawin dengan sepupu tiga kalinya La
Bandu, tidak melahirkan anak. La Wana kawin dengan sepupu tiga kalinya Isa Arung Padali anak dari La Mappe dari isterinya
We Besse. Kemudian La Mappe kawin lagi dengan We Cingkang anak dari La
Jalante Jenderal Tempe. Dari perkawinannya itu lahirlah La Mori.
Selanjutnya Isa dengan La Wana Arung Ganra melahirkan La Walinono Arung
Laleng Bata, We Tenri Dio Datu Lompulle, Galette, dan Abu Baedah. . (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
We Yaddi Luwu kawin dengan sepupu satu kalinya La Mangkona Datu Mario Riwawo anak dari La Wawo Datu Botto dari isterinya We Tenri Leleang Datu Mario Riwawo. We Yaddi Luwu dengan La Mangkona melahirkan La Sade, We Tenriabeng, We Tenriangka, We Cecu, dan We Tenri Pakkemme’. La
Onro Datu Lompulle kawin lagi dengan We Dulung, melahirkan seorang anak
bernama La Cube. Inilah yang kemudian menjadi Pangulu Lompo di Galung.
La Cube kawin dengan We Munde saudara perempuan Jenderal Lompengeng,
anak dari La Page Arung Lompengeng dengan isterinya We Bonga. Dari
perkawinan La Cube dengan We Munde lahirlah La Singke, We Sukki, Sitti
Saleha, dan La Mahmud. La Rumpang kawin lagi dengan We
Tappa dan melahirkan La Makkulau. Sampai disinilah keterangan tentang
keturunan We Yallu Arung Apala yang bersaudara kandung dengan We
Banrigau Arung Tajong. We Banrigau Arung Tajong kawin dengan La
Tenriangka Arung Ujung anak dari Tomarilaleng Pawelaiye ri Gowa dengan
isterinya Sitti Aminah Karaeng Somba Opu yang juga Karaeng Tallo.
Perkawinannya itu melahirkan La Tenri Wari. . (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
Kemudian
We Banrigau Arung Tajong kawin lagi di Wajo dengan La Sampenne Petta La
Battowa CakkuridiE ri Wajo yang juga sebagai Arung Liu. Anak dari La
Paulangi To Saddapotto Daeng Lebbi Arung Bette dengan isterinya We Tenri
Ampa Arung Singkang. We Banrigau dengan Petta La Battowa melahirkan
anak; pertama bernama We Sawe Arung Liu, kedua bernama La Olli
Maddanreng Bone, ketiga bernama We Sikati Andi Ecce. We
Sikati kawin dengan La Sampo Arung Ugi yang juga sebagai Arung Belawa.
Anak dari La Mampulana Arung Ugi dengan isterinya yang bernama We Bakke
Datu Kawerang. Dari perkawinannya itu, lahirlah We Busa Petta WaluE
Arung Belawa, La Rappe (Arung Liu Arung Ugi Maddanreng Bone, Sule Ranreng Tuwa), dan La Maggalatung Daeng PaliE Arung Palippu. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone).
We
Busa Arung Belawa kawin dengan La Tompi Arung Bettempola MatinroE ri
Wajo. Anak dari La Sengngeng Arung Bettempola MatinroE ri Salawa’na
dengan isterinya We Mappangideng Arung Macanang. Dari perkawinan itu
lahirlah We Kalaru Arung Bettempola yang dikawinkan dengan La
Patongai Datu Lompulle Ranreng Talotenre, anak dari We Mudariyah
MappalakaE dari suaminya La Pasanrangi Petta CambangE Arung Malolo
Sidenreng. Dari perkawinannya itu lahirlah La Mangkona To Rao PajumpungaE Datu Alau Wajo Arung Palippu, La Paramata La Tatta Raja Dewa Arung Bettempola, La Tune Mangkau La Tune Sangiang Arung Bettempola MatinroE ri Tancung. La
Rappe Arung Liu kawin dengan We Besse Daeng Taleba Arung Penrang anak
dari We Jiba Datu Bulu Bangi dari suaminya La Saliwu Petta KampongE
Arung Atakka. Dari perkawinannya itu lahirlah Sompa Ritimo Arung Penrang
MatinroE ri Cinnong Tabi yang kemudian dikawinkan dengan sepupu satu
kalinya La Tune Mangkau Arung Bettempola, anak dari We Busa Petta WaluE
dengan suaminya La Tompi Arung Bettempola MatinroE ri Wajo. (Lontaraq
Akkarungeng ri Bone).
24 Desember abad Andi Mappanyukki Arumpone Arung Timurung Baginda bangsawan BantaEng Bataritoja beliau Berkata bernama Bone Lamaddaremmeng Bone selama Bontoala Bugis Bugis-Makassar Buton Daeng Serang Datu datang Datu Soppeng Dewan didalam digelar disebut Galigo hubungan Inggeris jabatan Jennang Kabupaten Bone Kajao Laliddo Kawerrang kekuasaan keraj Kerajaan Gowa Kerajaan Wajo Kerampeluwa Kompeni Lalebbata lamanya Lapawawoi KaraEng Segeri lasykar Bone lasykar Gowa Latenriaji Tosenrima Latenrirawe BongkangngE Latenriruwa Latenritappu Latenritatta Arung Palakka Latenritatta Daeng Serang Latenritatta Tounru LATOA Lontara Luwu Makassar Gowa Makassar Ujung Pandang Makkedai Mandar Mangkau Mangkau'E Matajang Matinro-E ri Matowa Mellong menduduki takhta Kerajaan mengadakan mengenai mungkin Nica Panakkukang PANGNGADERENG Pasempe pasukan Kerajaan Pattiro pejabat Pemerintahan Raja Bone peperangan perang perjanjian Perjanjian Bungaya pertempuran PituE Puatta puluh putera Raj a Bone raja-raja sejak sejarah Serang Datu Mario Sidenreng Speelman Sulawesi Selatan Sultan Hasanuddin Suppa takhta kerajaan Bone Talaga Tanete tanggal terjadi To-Manurung Tobala Tomarilaleng Turatea utusan Wajo Watampone
Langganan:
Komentar (Atom)



