Agaknya Gertakan SBY kepada
Gerindra, ketika mempresentasikan pasangan Koalisi dengan Golkar dan
mengusung Capres Prabowo dan Cawapres ARB, membuahkan hasil.
Serangan bertubi tubi dialamatkan kepada
Gerindra melalui PAN dan Hatta Rajasa, dan juga melalui sindiran SBY
tentang Kolaisi Dagang sapi, yang walau tak menyebut Partai namun
sindiran itu dialamatkan kepada Gerindra, kasus isue uang muka Gerindra
kepada PPP.
SBY mengingatkan bahwa dirinya masih
menjadi sosok panutan didalam masyarakat, terbukti banyaknya pihak2
masyarakat sering menanyakan dukungan SBY kepada Capres yang mana.
Menurut pendapat SBY, dirinya masih mendulang elektabilitas hingga 60 %
dari pemilih, namun karena sudah tidak boleh lagi maju sebagai Capres
maka kelihatannya potensi berubahmenjadi promotor terpercaya bagi
pemilih.
Prabowo menjadi kecil dihadapan SBY,
yang begitu besar pengaruhnya didalam masyarakat dan sekaligus
memperingatkan ARB atas kekuatan yang masih ada ditangan SBY. Koalisi
Golkar dan Gerindra memberikan tekanan keras kepada Partai Demokrat dan
SBY, memojokkannya ketempat yang tidak semestinya.
Gerindra keder dan serta merta
mengurungkan dan meninjau kembali kesepakatan Kalisi dengan Golkar,
dengan mengusung Capres Prabowo dan Cawapres ARB, namun ada kesempatan
dan pintu terbuka yang terkuak sedikit dari uluran tangan SBY kepada
Prabowo dan Gerindra.
Hatta Rajasa menjadi utusan tak resmi
SBY, menjajagi kemungkinan Koalisi PAN dengan Gerindra, spekulasi yang
di lemparkan ini membuahkan hasil dan membuka pintu Gerindra dengan PAN
yang secara otomatis bekerja atas kepentingan SBY dan Partai Demokrat.
Prabowo hanya mmeperoleh partner
Koalisi, yang bisa menerima apa adanya yaitu dengan PKS, namun koalisi
kedua partai ini belum cukup mengantarkannya kepemilu presiden
mendatang, Gerindra sadar sekali bahwa apabila keukeuh mempertahankan
posisinya, jelas akan menempatkannya kepada posisi marginal.
SBY yang optimis sebagai penentu Capres
dalam Pemilu mendatang, kini hanya perlu bertahan sambil menunggu waktu
yang tepat dan hasil konvensi Partai Demokrat serta hasil survey
elektabilitas calon presiden hasil Konvensi.
Oleh karena itu, kini Gerindra dan
Prabowo relatif beku dan tak lagi bisa bermanuver, seperti apa yang
dilakukan selama ini, Prabowo dan gerindra benar2 terpojok ditempat,
dipaksa menunggu dan duduk manis. SBY yang akan menilai dan menentukan,
siapa yang akan maju menjadi Capres dan Cawapres Koalisi yang akan di
bentuk
Prabowo dan Gerindra dipaksa untuk ikut
kedalam Koalisi “TENDA BIRU’ yang terdiri dari Partai Demokrat, Golkar
dan PAN, bersama sama dengan PKS. dengan posisi tanpa opsi pembagian
kekuasaan dan bagi bagi rejeki.
Kalau Gerindra mau ikutan silahkan namun, tidak memiliki posisi tawar dalam koalisi, mau ikut boleh kalau tidak ikut juga RA PO PO.
Koalisi Tenda Biru yang di bentuk oleh
SBY merupakan langkah strategis SBY menyelamatkan rezim pemerintahan
masa lalu, mempertahankan statusquo dengan terus melanjutkan
kebijakannya selama ini.
Tanpa disadari apa yang
dilakukannya, merupakan deklarasi bertahan terhadap kehendak rakyat yang
tercermin dari perolehan suara di Pemilu Legislatif yang lalu, dimana
Partai2 koalisi Gabungan mengalami kemerosotan kepercayaan masyarakat,
yang tentu berakibat langsung terhadap kekuatan yang dimilikya otomatis
juga terdegradasi secara signifikan.
Koalisi PDIP, Nasdem, PKB, PPP, Hanura
dan PKPI, PBB, melawan Koalisi Tenda Biru Partai Demokrat PAN dan
Golkar, PKS, Gerindra. dengan masing masing mengajukan capres dan
cawapres.
Sayangnya Capres dan Cawapres akan
memojokkan gerindra kepada posisi yang lemah, Prabowo bisa dicapreskan
tentu dengan Konsesi yang sangat berat, apabila diterima dan dijalankan,
kalau tidak sanggup maka yang maju adalah Capres yang di tentukan
secara langsung oleh SBY.
Apakah Capres dari hasil Konvensi PD
atau Capres dari Golkar, dan cawapres dari Konvensi PD atau dari PAN,
sementara Prabowo tersingkir, hanya berposisi mendukung saja.
SBY melakukan serangan balik
mematikan kepada Prabowo dan Gerindra dengan telak, yang hingga kini
masih bertahan, dimana Pihak Prabowo tidak berkutik. apakah akan
bertahan ikut Koalisi Tend aBiru atau malah menyeberang ke kubu PDIP.
Babak akhir selalu memberikan kejutan yang tak disangka sangka, namun itulah yang terjadi disetiap proses politik di Indonesia.
Namun babak akhir kelihatannya,
masih akan menempuh dinamika dan gejolak yang mengasikkan untuk
dinikamti, satu sisi kehidupan mengharapkan perubahan, disisi lain
melihat elite politik bertahan dari gempuran2 kesalahan masa lalu.
Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !
Sumber : KOMPASIANA
Editor : EDHY LA TENRITAPPU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar